Publikasi BPS
Oleh DataStudi Team · 21 Juli 2026
Data & Visualisasi
Artikel ini menyertakan 2 dataset:
Lihat di bawah ↓
Perekonomian Kabupaten Barito Kuala menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil secara riil dari tahun 2021 hingga tahun 2025. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun dasar 2010 memperlihatkan bahwa kenaikan nilai PDRB murni mencerminkan peningkatan volume produksi barang dan jasa, bukan akibat pengaruh kenaikan harga atau inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas ekonomi daerah terus menguat secara berkelanjutan di seluruh komponen pengeluaran.
Secara agregat, perekonomian Kabupaten Barito Kuala terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif sepanjang tahun 2021 hingga tahun 2025. Nilai PDRB atas dasar harga konstan (2010 = 100) mengalami peningkatan bertahap dari Rp 5.942,72 miliar pada tahun 2021, menjadi Rp 6.155,85 miliar pada tahun 2022, Rp 6.406,42 miliar pada tahun 2023, Rp 6.727,69 miliar pada tahun 2024, dan mencapai Rp 7.082,55 miliar pada tahun 2025.
Perkembangan laju pertumbuhan PDRB dalam periode yang sama menunjukkan akselerasi yang konsisten, yaitu sebesar 3,17 persen pada tahun 2021, 3,59 persen pada tahun 2022, 4,07 persen pada tahun 2023, 5,01 persen pada tahun 2024, dan 5,27 persen pada tahun 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya terjaga, melainkan juga meningkat dari tahun ke tahun.
Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi Kabupaten Barito Kuala. Komponen ini mencatat nilai sebesar Rp 4.185,31 miliar pada tahun 2021 dan tumbuh menjadi Rp 5.173,37 miliar pada tahun 2025. Dalam hal distribusi, pangsa komponen ini dalam PDRB juga terus menguat dari 70,43 persen pada tahun 2021 menjadi 73,04 persen pada tahun 2025. Peningkatan ini selaras dengan tren penguatan daya beli masyarakat yang konsisten.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menempati posisi kedua dalam struktur PDRB. Nilai komponen ini tumbuh dari Rp 1.780,55 miliar pada tahun 2021 menjadi Rp 2.114,32 miliar pada tahun 2025. Namun demikian, pangsa PMTB dalam PDRB justru mengalami penurunan bertahap dari 29,96 persen pada tahun 2021, sempat mencapai puncak sebesar 30,96 persen pada tahun 2023, kemudian kembali turun menjadi 29,85 persen pada tahun 2025.
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah bernilai Rp 802,54 miliar pada tahun 2021 dan meningkat menjadi Rp 879,29 miliar pada tahun 2025, menunjukkan peran aktif pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan. Meskipun demikian, pangsa komponen ini dalam PDRB cenderung menyusut dari 13,50 persen menjadi 12,41 persen.
Pengeluaran Konsumsi LNPRT bernilai Rp 91,49 miliar pada tahun 2021 dan mengalami kenaikan menjadi Rp 125,89 miliar pada tahun 2025, dengan pangsa dalam PDRB yang meningkat dari 1,54 persen menjadi 1,78 persen. Hal ini menunjukkan aktivitas organisasi non profit yang semakin dinamis dalam mendukung ekosistem ekonomi lokal.
Perubahan Inventori memiliki nilai yang relatif kecil dan tidak konsisten selama periode pengamatan. Komponen ini bernilai positif sebesar Rp 1,78 miliar pada tahun 2021, kemudian berkontraksi menjadi -Rp 18,14 miliar pada tahun 2022, sebelum kembali bernilai positif pada tahun 2023 sebesar Rp 2,74 miliar. Pada tahun 2024 dan 2025, komponen ini mencatatkan nilai negatif sebesar -Rp 0,85 miliar dan positif sebesar Rp 0,39 miliar.
Net Ekspor Barang dan Jasa mencatat defisit sepanjang tahun 2021 hingga 2025. Nilai defisit ini semakin membesar dari -Rp 918,96 miliar pada tahun 2021 menjadi -Rp 1.210,72 miliar pada tahun 2025. Pangsa negatif Net Ekspor dalam PDRB juga melebar dari -15,46 persen menjadi -17,09 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Barito Kuala masih mengimpor lebih banyak barang dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Secara riil, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga mencatat laju pertumbuhan yang terus meningkat dari 0,65 persen pada tahun 2021 menjadi 5,16 persen pada tahun 2025, dengan pertumbuhan tertinggi pada tahun 2024 sebesar 6,24 persen.
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi pada tahun 2022 sebesar -1,59 persen, namun pulih dan tumbuh sebesar 3,38 persen pada tahun 2023, 6,22 persen pada tahun 2024, serta 1,39 persen pada tahun 2025.
Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh dengan laju 4,56 persen pada tahun 2021, 6,19 persen pada tahun 2022, 4,90 persen pada tahun 2023, 4,70 persen pada tahun 2024, dan memperlambat pertumbuhan menjadi 1,82 persen pada tahun 2025.
Pengeluaran Konsumsi LNPRT tumbuh sebesar 1,34 persen pada tahun 2021, 4,32 persen pada tahun 2022, 7,81 persen pada tahun 2023, dengan lonjakan signifikan sebesar 17,83 persen pada tahun 2024, sebelum kembali ke 3,84 persen pada tahun 2025.
Net Ekspor berkontraksi pada tahun 2021 sebesar -5,60 persen, kemudian tumbuh pada tahun 2022 sebesar 10,54 persen, 11,20 persen pada tahun 2023, dan 11,19 persen pada tahun 2024, sebelum kembali berkontraksi sebesar -3,60 persen pada tahun 2025.
Secara keseluruhan, struktur ekonomi ini mencerminkan keseimbangan yang baik antara daya beli masyarakat dan aktivitas investasi di tingkat kabupaten. Selama kurun waktu 2021 hingga 2025, perekonomian Kabupaten Barito Kuala menunjukkan tren pertumbuhan riil yang stabil dengan dukungan utama dari konsumsi rumah tangga dan investasi fisik yang terus meningkat.
Memuat dataset...
Publikasi BPS
Pada Juni 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) di Indonesia mencapai angka 127,65, sedikit turun 0,06% dari bulan sebelumnya. Angka ini merupakan kelanjutan dari tren kenaikan yang konsisten sepanjang paruh kedua 2025 dan awal 2026, dengan NTP mencatatkan kenaikan total sebesar 4,07 poin persentase sejak Juli 2025 (122,64) hingga Juni 2026 (127,65).
Research
Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencatat lonjakan yang luar biasa selama enam tahun terakhir. Dari 126,3 juta unit pada tahun 2018, armada kendaraan nasional melonjak menjadi 166,2 juta unit pada tahun 2024, kenaikan sekitar 31,6% atau tambahan hampir 40 juta kendaraan. Sebagian besar armada tersebut adalah sepeda motor. Kendaraan roda dua selalu mendominasi lanskap transportasi nasional, menyumbang sekitar 84% dari total kendaraan terdaftar, sementara mobil penumpang dan mobil barang hanya membentuk porsi sisanya. Namun, pertumbuhan mobil penumpang menunjukkan akselerasi yang mengesankan, terutama di masa pascapandemi.
Sumber : https://baritokualakab.bps.go.id
Sumber : https://baritokualakab.bps.go.id